http://internetsuksescourse-12.com/

MISTERI MALAM LAILATUL QODAR

Menyingkap Misteri Malam Seribu Bulan
(Lailatul Qadar)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:

Malam adalah Makhluk Ciptaan Dan Nikmat Besar
Dari Allah SWT
Kita sebagai orang Muslim yang yakin dan wajib percaya kepada apa yang di bawa oleh Rasulullah SAW, dan apa yang di informasikan oleh Allah lewat kitab suciNya Al Quran, meyakini bahwa semua yang ada di alam jagat raya ini adalah makhluk ciptaan Allah yang Maha Besar, apapun itu. Diantaranya adalah sepasang makhluk yang datang selalu bergantian dan tak pernah saling mendahului satu sama lain, sejak hari pertamanya dunia hingga kiamat nanti, yaitu Malam dan Siang. Sesuai firmanNya;
لاَالشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَآ أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلاَالَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
Malam dan siang adalah sepasang makhluk yang di ciptakan oleh Allah SWT. Dan bukan ada dengan sendirinya. Allah berfirman:
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ
“Dan Dialah yang menciptakan malam dan siang”. Dalam ayat lain Allah mengabarkan kebesaran dan kekuasaanNya:
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ الَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى الَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لأَجَلٍ مُّسَمًّى أَلاَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ
Sebagai tuhan yang maha segalanya, tentunya Ia menciptakan setiap makhlukNya tidak sia-sia, namun serba memiliki hikmah besar di balik penciptaan semuanya. Namun tidak semua orang bisa mendapat pelajaran dan hikmah tersebut, kecuali orang-orang yang beruntung dan diinginkan kebaikan baginya. Yaitu mereka yang mau memikirkan makhluk-makhluk Tuhannya, dan selalu berkeinginan menambah keyakinannya kepada Allah Tuhan semesta alam. Dan ingin mempertebal dan mengasahnya selama hayat masih di kandung badan. Hal ini di gambarkan oleh Allah dalam firmanNya:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لأَيَاتٍ لأُوْلِي اْلأَلْبَابِ
Keduanya dimisalkan oleh Nabi Muhammad SAW seperti kendaraan yang mengantarkan kita menuju negeri akhirat. Beliau bersabda:
“Malam dan siang adalah dua buah kendaraan…
Hikmah Adanya Malam
Diantaranya: Hisab, Stabil, mempertebal iman.
Keduannya adalah termasuk tanda-kebesaran Allah SWT dan nikmat darinya yang banyak orang lalai mensyukurinya.
وَسَخَّرَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ
وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُم بِالَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَاجَرَحْتُم بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَى أَجَلٌ مُّسَمَّى ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا
وَمِنْ ءَايَاتِهِ مَنَامُكُم بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَآؤُكُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لأَيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ
قُلْ أَرَءَيْتُمْ إِن جَعَلَ اللهُ عَلَيْكُمُ الَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللهِ يَأْتِيكُم بِضِيَآءٍ أَفَلاَ تَسْمَعُونَ {71} قُلْ أَرَءَيْتُمْ إِن جَعَلَ اللهُ عَلَيْكُمُ النَّهَارَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللهِ يَأْتِيكُم بِلَيْلٍ تَسْكُنُونَ فِيهِ أَفَلاَ تُبْصِرُونَ {72} وَمِن رَّحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
وَءَايَةٌ لَّهُمُ الَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُم مُّظْلِمُونَ
Allah Bersumpah Demi Malam
وَالَّيْلِ إِذْ أَدْبَرَ
وَجَعَلْنَا الَّيْلَ لِبَاسًا
وَالَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ
وَالَّيْلِ وَمَاوَسَقَ
وَلَيَالٍ عَشْرٍ
وَالَّيْلِ إِذَا يَسْرِ
وَالَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا
وَالَّيْلِ إِذَا يَغْشَى
وَالَّيْلِ إِذَا سَجَى

Allah Memerintahkan Ibadah Dan Memuji Hamba Nya Yang Bangun Dan Ibadah Di Malam Hari
الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُم بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ
وَأَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ
وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ ءَانَآءِى الَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافِ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى
وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ وَمِنَ الَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَارَ السُّجُودِ
وَمِنَ الَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَإِدْبَارَ النُّجُومِ
لَيْسُوا سَوَآءً مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةُُ قَآئِمَةُُ يَتْلُونَ ءَايَاتِ اللهِ ءَانَآءَ الَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ
وَلَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ عِندَهُ لاَيَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلاَيَسْتَحْسِرُونَ {19} يُسَبِّحُونَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ لاَيَفْتُرُونَ
فَإِنِ اسْتَكْبَرُوا فَالَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ يُسَبِّحُونَ لَهُ بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَهُمْ لاَيَسْئَمُونَ
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ ءَانَآءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَقَآئِمًا يَحْذَرُ اْلأَخِرَةَ وَيَرْجُوا رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَيَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُوا اْلأَلْبَابِ

Keutamaan Menghidupkan Malam

إِنَّ نَاشِئَةَ الَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلاً
وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَى مِنْ ثُلُثَىْ الَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَآئِفَةً مِّنَ الَّذِينَ مَعَكَ وَاللهِ يُقَدِّرُ الَّيْلَ وَالَّنَهَارَ
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ {15} ءَاخِذِينَ مَآءَاتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ {16} كَانُوا قَلِيلاً مِّنَ الَّيْلِ مَايَهْجَعُونَ {17} وَبِاْلأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
سَوَآءٌ مِّنكُم مَّنْ أَسَرَّ الْقَوْلَ وَمَن جَهَرَ بِهِ وَمَنْ هُوَ مُسْتَخْفِ بِالَّيْلِ وَسَارِبٌ بِالنَّهَارِ
قُلْ مَن يَكْلَؤُكُم بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ مِنَ الرَّحْمَنِ بَلْ هُمْ عَن ذِكْرِ رَبِّهِم مُّعْرِضُونَ

ADA APA DENGAN MALAM???
Sebagaimana kita ketahui bahwa malam memiliki banyak keistimewaan. Dimana malam adalah waktu berasyik-asyik seorang kekasih dengan yang ia cintai, waktu berledzat-ledzat munajat dan bukankah berduaan bersama yang kita cintai lebih nikmat dan special ketimbang di depan banyak hamba-hambaNya. Itulah sebabnya sebagian para sholihin pernah mengatakan “sejak 40 tahun tak ada yang membuatku sedih kecuali terbitnya matahari” tentunya hal itu menyebabkan habisnya suasana romantic seorang hamba dengan sang “kekasih”.
Bahkan Allah telah memberikan banyak keindahan dan keistimewaan untuk kekasih teracintaNya Nabi Muhammad di malam hari. Diantaranya : mukjizat terbelahnya bulan, berimannya sekelompok jin kepada beliau, keluar dari gua tsaur dan kebanyakan perjalanan beliau selalu di malam hari. Karenanya beliau bersabda “….sesungguhnya jarak perjalanan di bumi itu dilipat di malam hari”. Malam juga waktu untuk giat ibadah beliau sebagaimana yang kita ketahui beliau sholat di malam hari hingga kedua kakinya bengkak. Ibadah di malam hari adalah suatu kewajiban bagi beliau, karenanya berangkat dari situlah beliau dimuliakan dengan isra mi’raj di malam hari pula sekaligus agar orang yang mempercayainya mendapat pahala lebih banyak karena peristiwa di malam hari berbeda dengan di siang hari yang bisa di lihat dengan terbuka. Dalam Al Quran Allah selalu mendahulukan penyebutan malam sebelum siang (AL ISRA 12) bahkan dalam sebuah hadits yang sangat popular telah sering kita dengar bahwa “(rahmat) Allah turun ke langit dunia di sepertiga malam terakhir dan berkata adakah yang berdoa kepadaKu maka akan aku kabulkan, adakah yang meminta kepadaku maka akan aku berikan dan adakah yang memohon ampunanku maka akan aku ampuni dia”
Semua keistimewaan tersebut tidak dimiliki siang hari. Maka dapat kita lihat dengan jelas bahwa Rasul menegaskan akan kelebihan waku malam bahwa di situ terdapat saat-saat penuh rahmat, pelipatgandaan pahala, percepatan dikabulnya doa berbeda dengan kebatilan yang diyakini sebagian ahli falsafat bahwa biasanya gelap itu petanda buruk dan hina. Justru Allah telah banyak memuliakan hamba-hambanya lewat malam hari seperti kisah Nabi Ibrahim (AL AN’AM 76) Nabi Luth (AL HIJR 65) Nabi Musa (AL A’RAF 152) yang bermunajat kepadaNya di malam hari dan memerintahkan beliau untuk keluar bersama kaumnya di malam hari pula.
Malam Malam Yang Memiliki Keutamaan
Dan Di Anjurkan Untuk Di Hidupkan dengan Ibadah
Tips Agar Mudah Bangun Malam
Dalam hal ini penulis mengutip dari dua versi ulama tentang tips-tips agar mudah bangun malam. Yang pertama versi Hujjatul Islam Al Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al Ghazali Ath Thusi RA. Beliau menyatakan dalam ihya nya “Ketahuilah sesungguhnya bangun malam itu suatu yang sulit dilakukan oleh orang-orang kecuali bagi orang yang beroleh taufik dengan beberapa ketentuan-ketentuannya yang dzhahir dan bathin.
Adapun yang dzohir 4 perkara:
• Tidak terlalu banyak makan dan minum karena akan membuat tidur dan berat bangun malam. Kalaupun harus makan di malam hari maka sebaiknya jangan langsung tidur akan tetapi berjalan 40 sampai 100 langkah agar mempermudah pencernaan makanan.
• Tidak melakukan hal-hal yang berat hingga melelahkannya dan membuatnya ngantuk dan mudah tidur
• Melakukan qailulah (tidur ringan sejenak biasanya seselum dzuhur) di siang hari karena yang demikian itu sunnah dan sangat membantu untuk mudah bangun malam.
• Menjauhkan perbuatan dosa di siang hari karena dosa apat membuat hati keras dan menjauhkan pelakunya dari penyebab turunnya rahmat Allah. Seorang mengeluh kepada Al Imam Hasan Al Bashri akan kesulitannya bangun malam padahal sudah disiapkan sedemikian rupa, beliau berkata “Dosa-dosamu yang memberatkanmu” dan sebagai tambahan dari penulis, niat yang kuat untuk bangun malam disertai permohonan saat berbaring agar kiranya Sang Khaliq berkenan membangunkan di saat-saat yang paling Ia suka dari malam hari.
Adapun penyebab yang bathin untuk mempermudah bangun malam 4 perkara pula:
• Membebaskan hati dari sifat hasud dan dengki kepada sesama muslim dan dari bid’ah-bid’ah yang sesat dan dari hanyut dalam memikirkan urusan duniawi hingga membuatnya sedih karena sesunguhnya orang yang selalu susah memikirkan dunia akan sulit baginya bangun malam, kalaupun bangun dalam sholatnyapun takkan konsentrasi kecuali hal-hal yang ia idam-idamkan dari urusan duniawi itu.
• Memiliki rasa takut kepada Allah yang mempengaruhi dirinya hingga dapat menghempaskan rasa panjang angan-angan
• Mengetahui keistimewaan bagi orang yang bangun malam lewat ayat dan hadits dan kisah para sholihin hingga mempengaruhi jiwanya untuk rindu dan mengharapkan ganjaran untuk menggapai derajat yang tinggi.
• Ini adalah yang terpenting dan termulia yaitu memiliki rasa cinta kepada Allah dan keimanan yang sangat kuat hingga menarik dirinya untuk bermunajat dan berledzat-ledzat dengan sang ‘kekasih’dalam suasana romantis. Sebagaimana yang sudah di kemukakan penulis bahwa malam adalah saat menciptakan suasana romantic antara sang kekasih deng Dzat yang dicintainya.

Berikut sekelumit gambaran para kekasih Allah yang menikmati suasana malam. Diantara mereka ada seorang ulama menyatakan “Para penggemar bangun malam merasakan kenikmatan yang lebih nikmat saat bangun malam dibanding ahli maksiat saat maksiat dan kalau malam sudah sirna dari hidup ini maka akupun sudah tak betah lagi di dunia”. Adapula yang berkata “Tak ada yang membuatku sumpek sejak 40 tahun selain terbitnya fajar”. Ada pula yang menyatakan “Kenikmatan munajat bukan bagian dari dunia ini, melainkan sebuah kenikmatan surgawi yang Allah turunkan untuk para waliNya dimana kenikmatan itu takkan dirasakan kecuali oleh mereka”

Fadhiol suwar quraniyah
Risalatul muawanah
Hikmah yamaniyah
Syarah ratib al haddad
Samudera al fatihah
TAFSIR Al Qurthubi
Ihya ulumid din
An nasaih ad diniyah

HADITS-HADITS YANG BERKENAAN DENGAN LAILATUL QADAR lebih dari 20 hadits

QOD JA AKUMSYAHRU ROMADHON…..
MAN QOOMA LAILATAL QODAR IMANAN….
LAILATUL QODR FIL ASYRIL AWAKHIR…
INNAHA LAILATA…..
INNA IMAROTA LAILATUL QODR….
LAILAH SAMHAH…..
INNI ROAITU LAILATAL QODR….
BAL HIYA FI ROMADHON
ILTAMISUUHA…LAA TASALUUNI..
MAN KAANA I’TAKAFA MA’I…
LAILATUL QODR KE….ADA BEBERAPA KESAMAAN
TAFSIR IBN KATSIR

PERBEDAAN PENDAPAT
SEPUTAR LAILATUL QODAR

Malam isra mi’raj Rasulullah dengan lailatul qadar, mana yang lebih mulia?

Sebagaimana sudah kita ketahui bersama bahwa malam adalah saat-saat mulia bagi hamba Allah dan saa-saat mereka mendapat kemuliaan. Lailatul qadar dan malam isra mi’raj adalah dua fenomena luar biasa dari sang khaliq bagi makhluqNya. Lalu timbul pertanyaan “Mana lebih afdhol antara keduanya?” penulis mengutip sebuah keterangan mengenai hal tersebut dari kitab WA HUWA BIL UFUQ AL A”LA karya Prof.Dr As Sayid Al Habib Muhammad bin Alwi Al Maliki seorang ahli hadits ternama dari Mekkah. Beliau menerangkan sebagai berikut:
Abu Umamah bin An Naqqasy menerangkan “Malam isra mi’raj lebih afdhol dari pada lailatul qadar bagi Nabi SAW, namun bagi umat beliau lailatul qadar lebih afdhol karena ibadah di malam tersebut lebih baik dari pada beramal selama 1000 bulan, sedangkan mengenai beramal di setiap malam isra mi’raj (27 rajab) belum ada keterangan nash yang shohih atau dhoif yang menerangkan fadhilah beramal di malam tersebut karenanya Nabi SAW tidak menerangkan hal yang demikian itu, dalam hal ini Al Imam Al Balqini berkata dalam untaian syair pujiannya kepada Nabi tentang kebesaran malam mi’raj
(Dia) berkenan menganugerahimu untuk melihatNya di suatu malam yang mengungguli
Seluruh malam-malam lailatul qadar, dan saat itu Dia (Tuhan) tersebut merestuimu”
Maka dari sini dapat kita simpulkan bahwa tentunya malam isra lebih afdhol. Dan hikmahnya adalah karena di malam isra tersebut Nabi berkesempatan melihat Dzat Allah yang maha mulia (hal itu tentunya tidak boleh dan tak bisa dibayangkan dan diraba oleh akal pikiran manusia. Karena Allah maha agung dan suci terlalu tinggi dari pada mampu untuk dibayangkan dengan posisi dan hal-hal yang tak layak dengan kebesaran dan kesempurnaan sifat-sifat ketuhanannya oleh akal makhluk yang lemah, hina dan terbatas model kita. Di bikin footnote) dimana hal itu adalah paling afdholnya segala sesuatu karenanya tidak dijadikan sarana atau moment untuk melakukan amaliah secara muthlak, justru Allahpun berkenan menganugerahi hal yang sama kepada hamba-hambaNya yang mukmin di hari kiamat kelak (untuk dapat melihat dzatNya yang maha mulia) dan hal itu semata-mata anugerah dariNya” lanjut beliau dalam kitab Al Ishthifa. Dan hal ini menguatkan posisi kemuliaan malam dibanding siang sebagaimana yang telah kita bahas.
Al Hafidz Ibnu Hajar mengutip pernyataan Al Mahdawi dengan mengatakan “Bila yang dimaksud adalah setiap malam isra mi’raj (27 rajab) yang ada setiap tahunnya lebih afdhol dari malam lailatul qadar setiap tahun pula dari segi ibadahnya dan berdo’a di malam itu, maka hal ini adalah jelas-jelas salah dan memaksakan. Dan tak ada seorang ulamapun yang mengatakan demikian (bahwa di setiap malam isra beramal lebih mulia dari setiap malam lailatul qadar)”
As Sayid Al maliki merangkum dengan mengatakan “Bila dilihat dari segi malam isra mi’raj yang dialami Rasul SAW dengan lailatul qadar setiap tahunnya maka tepat seperti apa yang dikemukakan Abu Umamah di atas. Namun bila dibandingkan malam 27 Rajab setiap tahun dengan malam lailatul qadar setiap tahunya maka tentunya lailatul qadar setiap tahun lebih afdhol”

Apakah lailatul qadar khususiyah umat Muhammad atau adapula sebelum beliau?

Dalam hal ini mayoritas ulama telah sepakat bahwa lailatul qadar adalah khususiyah untuk umat Rasulullah dan tidak terdapat pada umat terdahulu. Mereka berargumentasi hadits yang menerangkan bahwa tatkala diperlihatkan kepada Rasulullah umur umat terdahulu yang sangat panjang dan umur umatnya lebih pendek maka merasa bahwa umatnya tak sanggup mencapai seperti amaliay umat terdahulu maka Allah menganugerahi malam mulia tersebut dalam rangka memenuhi cita-cita RasulNya yang menginginkan agar umat beliau yang berumur tidak sepanjang umat terdahulu namun dapat menyamai bahkan melebihi amal ibadah umat sebelumnya yang umurnya jauh lebih panjang.

Apakah Hanya pada bulan suci Ramadhan atau boleh jadi datang di luar bulan suci Ramadhan?
Ada pendapat yang menyatakan bahwa lailatul qadar bisa terjadi di sepanjang tahun. Artinya tidak hanya di bulan Ramadhan. Hanya saja yang paling sering datang di setiap bulan Ramadhan dan paling banyak di sepuluh hari terakhirnya.
Abu Daud menegaskan masalah ini dalam sunan-nya hingga dalam penamaan salah satu babnya diberi judul “Bab yang menerangkan bahwa lailatul qadar di sepanjang romadhon”. Begitu pula pendapat mayoritas ulama bahwa lailatul qadar hanya di bulan ramadhan.
Apakah di bulan suci ramadhan hanya terdapat di zaman Rasulullah atau berkesinambungan hingga hari kiamat?

Sahabat Abu Dzar berkata “Aku adalah orang yang paling banyak bertanya kepada Rasulullah tentang lailatul qadar dan aku bertanya kepada beliau “Ya Rasulullah kabarkanlah kepadaku apakah lailatul qadar itu hanya di ramadhan atau ada di selain bulan ramadhan pula? Beliau menjawab “Dia hanya di sepanjang bulan ramadhan” aku bertanya lagi “Hanya ada saat Nabinya masih hidup dan bila wafat hilang atau berkesinambungan hingga kiyamat?” beliau menjawab “Bahkan hingga kiamat” aku bertanya lagi “Kapan di bulan ramadhan?” beliau menjawab “Carilah di sekitar 10 hari pertama dan 10 hari terakhir” kemudian beliau membicarakan hal lain dan melupakannya. Kemudian aku bertanya lagi “Dari keduanya berada di sepuluh hari yang mana?” beliau menjawab “Carilah di 10 hari terakhir, jangan kau tanyakan aku lagi setelah itu” kemudian beliau membicarakan hal lain dan melupakan pembahasan tersebut dan aku bertanya lagi “Ya Rasulallah aku bersumpah demi hak engkau yang besar terhadapku, berada di hari ke berapa dalam 10 hari terakhir tersebut?” beliau marah kepadaku dengan marah yang belum pernah kualami semenjak aku bersama beliau, namun beliau menjawab “Carilah di 7 hari terakhir dan jangan tanyakan aku lagi tentang hal itu setelah ini”. HR Ahmad da An Nasai. Maka dari hadits ini dan banyak hadits lain ulama menyimpulkan bahwa lailatul qadar berkesinambungan hingga kiamat dan setiap ramadhan.

Pandangan Al Imam Al Haddad mengenai lailatul qadar

Al Imam Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad Shahibur Ratib menyatakan dalam kitab An Nasaih Ad Diniyah-nya “Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa beliau SAW bersungguh-sungguh dalam beribadah bila masuk bulan ramadhan, dan lebih giat lagi apabila sudah masuk di 10 hari terakhir” pendapat saya mengenai hal tersebut adalah bahwa di 10 hari terakhir itu memiliki kelebihan dibanding hari-hari sebelumnya pada bulan tersebut, karenanya beliau SAW menganjurkan untuk menggapai lailatul qadar di 10 hari terakhir. Dan para ulamapun menyatakan bahwa di malam-malam ganjilnya dalam 10 hari tersebutlah yang lebih sering datangnya lailatul qadar”
Beliau melanjutkan “Al Hasil, sepatutnya mukmin yang cerdas setiap malam di bulan ramadhan selalu giat dan siap untuk mengharap lailatul qadar, tekun beramal shaleh karena yang diharapkan adalah tatkala tiba malam itu sedang dia dalam keadaan hanyut dalam amal kebaikan, berdzikir kepada Allah bukan sedang lupa atau lalai baik dia melihat lailatul qadar ataupun tidak. Karena sesungguhnya orang yang beramal ketaatan kepada Allah di malam tersebut maka nilai amalnya itu lebih baik daripada beramal selama 1000 bulan, baik dia mengetahui ataupun tidak kedatangannya. Karenyanya kami menganjurkan untuk selalu bersiap ibadah setiap malam di bulan ramadhan karena bemacam-macamnya pandangan para ulama mengenai kapan datangnya malam itu dan malam ke berapa dia tiba? Ada diantara mereka yang berpendapat bahwa lailatul qadar itu samar dan tidak diketahui di sepanjang bulan ramadhan. Adalagi yang berpendapat bahwa lailatul qadar itu berpindah-pindah dan tidak menentu di satu malam. Dan saya sendiri condong kepada pendapat yang terakhir (bahwa lailatul qadar itu samar tidak diketahui di sepanjang bulan ramadhan) dan saya berpendapat pula bahwa bisa jadi dia datang di selain sepuluh terakhir walaupun yang paling sering di 10 hari terakhir sebagaimana yang dinyatakan oleh mayoritas ulama”

LANTAS KAPAN DATANGNYA LAILATUL QADAR????
Para ulama telah sepakat bahwa Lailatul Qadar itu datang setiap tahun, hanya saja mereka berbeda pendapat tentang datangnya lailatul qadar itu sendiri, dan hingga saat inipun kedatangannya masih misterius. Walaupun ada beberapa hadits yang menyebutkan bahwa malam lailatul qadar pada malam ke 21, 23, 24, 25 adapula hadits yang menyebutkan pada malam 27. Para ulama menganalisa kedatangannya dengan hasil dan prakiraan yang beraneka ragam. Berikut ini penulis mengutip sebagian dari pendapat-pendapat tersebut semoga membuat kita giat untuk berusaha menggapainya.
• Sahabat Ibnu Abbas, Ubai bin Ka’ab serta beberapa sahabat dan ulama lain berpendapat bahwa lailatul qadar datang pada malam setiap 17 Ramadhan dimana siang harinya pecahnya peristiwa perang badar yang amat dahsyat hingga Allah menurunkan tentara-tentara malaikatNya dan lewat peristiwa tersebut Allah memuliakan agamanya
• Al Imam Malik menyatakan bahwa lailatul qadar bisa terjadi di sepanjang tahun. Artinya tidak hanya di bulan Ramadhan. Hanya saja yang paling sering datang di setiap bulan Ramadhan dan paling banyak di sepuluh hari terakhirnya.
• Al Imam Asy Syafi’I dan Al Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa lailatul Qadar hanya datang di setiap bulan Ramadhan dan tidak di luar bulan Ramadhan. Paling sering di sepuluh hari terakhirnya.
• Sebagian ulama memperkiraan kedatangannya dengan metode isyarat al quran, dimana kata-kata dalam surat tersebut ada 30 kata dan kata Dia (lailatul qadar) tepat berada di urutan kata ke 27. Jadi berada di malam ke 27 ramadhan. Atau dengan metode isyarat lain yaitu dalam kata Lailatul Qadar dalam tulisan arab terdapat 9 huruf, dan disebut dalam surat ini sebanyak 3 kali, jadi 9 dikali 3 = 27.
Sebagian ulama Ahli Al Kasyaf memiliki pandangan yang berbeda dalam menganalisa datangnya malam yang sangat mulia tersebut. Al Imam Abu Al Hasan Asy Syadzili berpendapat
a. apabila hari pertama Ramadhan hari ahad maka lailatul qadar jatuh pada malam ke 29.
b. apabila hari pertama Ramadhan hari senin maka lailatul qadar jatuh pada malam ke 21.
c. apabila hari pertama Ramadhan hari selasa maka lailatul qadar jatuh pada malam ke 27.
d. apabila hari pertama Ramadhan hari rabu maka lailatul qadar jatuh pada malam ke 19.
e. apabila hari pertama Ramadhan hari kamis maka lailatul qadar jatuh pada malam ke 25.
f. apabila hari pertama Ramadhan hari jumat maka lailatul qadar jatuh pada malam ke 17
g. apabila hari pertama Ramadhan hari sabtu maka lailatul qadar jatuh pada malam ke 23.
Sebagian Ahli Kasyf yang lain berpendapat sebagai berikut:
a. apabila hari pertama Ramadhan hari senin atau jumat maka lailatul qadar jatuh pada malam ke 21.
b. apabila hari pertama Ramadhan hari ahad atau rabu maka lailatul qadar jatuh pada malam ke 29.
c. apabila hari pertama Ramadhan hari sabtu maka lailatul qadar jatuh pada malam ke 23.
d. apabila hari pertama Ramadhan hari kamis maka lailatul qadar jatuh pada malam ke 25.
e. apabila hari pertama Ramadhan hari kamis maka lailatul qadar jatuh pada malam ke 25.
f. apabila hari pertama Ramadhan hari selasa maka lailatul qadar jatuh pada malam ke 27
g. apabila hari pertama Ramadhan hari sabtu maka lailatul qadar jatuh pada malam ke 23.
Al Imam Ahmad Zaruq dan Al Imam Ibnu Al ‘Arabi serta beberapa ulama lain menyatakan “Perhatikan dan malam jumat terakhir yang ganjil”
Menurut para ahli Hadits bahwa yang paling banyak adalah di sepuluh hari terakhir dan pada malam-malam ganjilnya.
Namun terkadang Allah SWT berkenan menampakkan lailatul Qadar untuk hamba-hamba pilihanNya. Perlu diingat bahwa bagi orang yang ditampakkan dianjurkan agar tidak memberitahu orang lain karena hal itu dapat mengendorkan semangatnya untuk selalu beribadah dan mencari malam mulia tersebut.
Al Hasil tidak pastinya kedatangan malam itu karena suatu hikmah besar yang Allah maksudkan.Ulama berkata “Allah menyembunyikan beberapa hal pada beberapa hal yang lain untuk tujuan dan hikmah tertentu:
• Menyembunyikan Lailatul Qadar di sepanjang malam agar setiap malam dihidupkan dengan ibadah
• Menyembunyikan waktu ijabah di sepanjang hari jumat agar memperbanyak doa di sepanjang hari tersebut
• Menyembunyikan Ash Sholat Al Wushtho dalam sholat 5 waktu agar semua di jaga
• Menyembunyikan Al Isim Al A’dzham dalam nama-namaNya agar semua nama-namaNya dipanggil
• Menyembunyikan keridoanNya dalam ketaatan agar hambaNya melakukan semua jenis amal shaleh
• Menyembunyikan kemurkaanNya dalam maksiatnya agar semua maksiat dijauhi
• Menyembunyikan waliNya diantara hamba-hambaNya agar selalu berbaik sangka kepada hamba-hambaNya
• Menyembunyikan kedatangan kiamat agar selalu merasa takut
• Menyembunyikan ajal agar selal siap siaga setiap saat”

Kajian Surat Al Qodr Dan Seputar Malam Lailatul Qodar

إِ نَّآ أَنْزَلْنَهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ ()وَمَآ أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ () لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌمِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ () تَنَزَّلُ الْمَلَئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِّنْ كُلِّ أَمْرٍ () سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ()
“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Quran) di malam kemuliaan “Lailatul Qodar” (1) Dan Tahukah kamu apa Malam kemuliaan itu (Lailatul Qodar)? (2) Malam kemuliaan itu (Lailatul Qodar) lebih baik dari seribu bulan (3)”Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin tuhannya utnuk mengatur segala urusan”(4)”Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar”(5)

Sebagian ulama berpendapat bahwa surat ini makkiyah yaitu istilah untuk sebuah surat yang turun di mekkah atau turun sebelum hijrah Rasul. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa ini adalah surat madaniyah yakni turun di madinah atau setelah hijrah Rasul, Al Imam Ahmad bin Muhammad Ash Shawi pensyarah kitab tafsir Al Jalalain lebih condong kepada pendapat yang kedua begitu pula halnya dengan Al Imam Al Khazin seorang pakar tafsir terkemuka dari Baghdad dan kebanyakan ulama tafsir. Bahkan sebagian ulama berkata bahwa surat ini adalah surat yang pertama kali turun di kota Madinah. Dan surat ini sempat turun berulang-ulang beberapa kali, hal itu tentunya menunjukkan keagungan surat tersebut, sebagaimana hal itu berlaku pula pada beberapa surat yang terkenal keutamaannya seperti Al Fatihah dll. Surat ini terdiri dari 5 ayat, 30 kata dan 112 huruf.

Latar Belakang Turunnya Ayat Ini.
Salah satu keutamaan yang Allah hadiahkan untuk Nabi Muhammad dan umatnya adalah sebuah malam yang penuh keutamaan dan kebaikan, ia di namakan oleh Allah ”Lailatul Qodar”.
Menurut bahasa Lailatun itu sendiri berarti Malam, sedangkan Qodr berarti Nilai atau bisa juga Takdir, dapat juga di artikan Kemuliaansebagian ulama mengartikan pula sempit. Masing- masing setiap arti tersebut akan kami urai beberapa halaman lagi.
Adapun latar belakang atau biasa disebut dalam bahasa Arab Asbabun Nuzul ayat ini adalah berbagai macam pendapat. Beberapa pendapat tersebut akan kami ketengahkan di bawah ini:
• Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Mujahid bahwa Rasulullah menyebutkan seorang laki-laki dari kalangan Bani Isroil yang selalu memakai baju perang untuk siap siaga berjihad di jalan Allah selama 1000 bulan. Mendengar itu Muslimin merasa salut, maka Allah menurunkan :
إِ نَّآ أَنْزَلْنَهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْر ()وَمَآ أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ() لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌمِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ()
“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Quran) di malam kemuliaan “Lailatul Qodar” (1) Dan Tahukah kamu apa Malam kemuliaan itu (Lailatul Qodar)? (2) Malam kemuliaan itu (Lailatul Qodar) lebih baik dari seribu bulan (3) sebagaimana seorang laki-laki tadi yang selalu membawa senjata selama 1000 bulan.
• Riwayat yang lain yang hampir sama dengan riwayat di atas mengatakan, bahwa Nabi di ceritakan tentang seorang laki-laki Bani Isroil yang selalu membawa senjatanya di atas pundaknya untuk jihad di jalan Allah, hal itu ia kerjakan selama 1000 bulan. Mendengar hal itu Nabi SAW merasa kagum dan sangat menginginkan agar hal itu terdapat pada umatnya, maka beliau berkata “Ya Robby (Tuhanku) Kau telah jadikan umur umatku paling pendek dari seluruh umat, maka amalnyapun akan sedikit bila di bandingkan dengan mereka” maka Allah pun menganugerahkan umtuk beliau Lailatul Qodar. Tafsir Ash Showy
• Ibnu Jurair meriwayatkan dari Mujahid bahwa ia berkata “Konon di zaman Bani Isroil ada seorang laki-laki yang malam harinya selalu bangun Ibadah hingga menjelang pagi, dan siang harinya selalu berjihad memerangi musuh-musuh (Allah) sampai sore tiba. Hal itu ia lakukan sampai 1000 bulan. Maka Allah menurunkan Surat ini”.
• Urwah menyatakan “Suatu saat Nabi SAW menceritakan tentang 4 orang Bani Isroil. Beliau bersabda:”Mereka berempat beribadah kepada Allah selama 80 tahun, dan tak pernah bermaksiat kepada Allah walaupun hanya sekejap mata” lalu beliau menyebutkan ke empat orang itu, mereka adalah Ayyub, Zakariya, Hazqil ibnu Ajuz dan Yusya bin Nun. Setelah mendengar hal tersebut para Sahabat Nabi merasa salut dan kagum kepada amal empat orang itu. Lalu Malaikat Jibril datang dan berkata:”Wahai Muhammad, umatmu merasa kagum kepada mereka berempat yang selama 80 tahun tidak maksiat kepada Allah sama sekali walau sekejap mata. Maka Allah menurunkan kepadamu sesuatu yang jauh lebih baik dari hal itu”. Lalu Jibril membaca:
ِ إِ نَّآ أَنْزَلْنَهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ……
“Maka nabi pun merasa senang dengan hal in.i”
• Al Imam Malik Mengatakan di Muwaththo-nya “Sesungguhnya Nabi Muhammad diperlihatkan umur-umur para umat yang terdahulu (mencapai ratusan bahkan ribuan tahun) setelah melihat hal tersebut beliau merasa bahwa umur umatnya sangat pendek (bila di bandingkan dengan umur umat dahulu kala), hingga terasa sulit, bahkan serasa tak mampu amal umat beliau untuk menyamai amal ibadah mereka karena panjangnya umur mereka, maka Allah memberikan beliau malam Lailatul Qodar dan menjadikan nilainya lebih dari seribu bulan.”
• Ada yang berpendapat bahwa “Konon di kehidupan zaman umat yang telah lalu seseorang baru bisa di sebut seorang ‘Abid (hamba) sampai ia beribadah selama 1000 bulan yakni 83 tahun 4 bulan. Maka untuk Ummat Nabi Muhammad SAW, Allah menjadikan ibadah satu malam (di malam Lailatul Qodar) lebih baik 1000 bulan ibadah mereka.”
• Abu bakar Al Warroq (seorang pembesar ahli Shufy) mengatakan “Konon kerajaan Nabi Sulaiman berdiri selama 500 tahun, begitu juga kerajaan Dzul Qornain selama 500 tahun pula. Maka kedua kerajaan itu lamanya 1000 tahun. Maka Allah menjadikan amal ibadah di malam ini (Lailatul Qodar) bagi orang yang mendapatkannya jauh lebih baik dari kedua kerajaan mereka berdua”.

Al Hasil ibadah semalam di malam lailatul qadar lebih afdhol dan agung dari kesemua itu.

Dimalam itu Al Quran diturunkan

إِ نَّآ أَنْزَلْنَهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْر
ِ“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Quran) di malam Lailatul Qodar”

Ayat pertama ini menerangkan kepada kita bahwa Allah menurunkan kitab sucinya pada malam Lailatul Qodar. Hal itu Allah ungkapkan dengan kata-kata “Sesungguhnya Kami Menurunkannya….” Ulama tafsir menerangkan rahasia di balik kata-kata agung ini adalah bahwa Allah seolah hendak menonjolkan kebesaran sesuatu yang Ia bicarakan hingga menyertakan dzatnya yang maha segala sempurna dalam peristiwa tersebut. Coba anda renugkan sekali lagi kata-kata “Sesungguhnya Kami..” Hal ini sekaligus sebagai penepis keraguan dan pengingkaran yang nampak pada hal tersebut, karena tentunya yang diajak bicara terdapat orang-orang yang berpikiran seperti itu. Sebagaimana yang kita tahu bahwa sebagian orang kafir menuduh bahwa Al Quran itu buatan Nabi Muhammad, Al Quran itu hanya dongeng-dongeng belaka dan lain sebagainya. Jadi dengan turunnya ayat ini Allah tegaskan bahwa Ia yang menurunkan Al Quran yang suci itu. Dan ini menunjukkan kebesaran Dzat yang menurunkan, sesuatu yang di turunkan dan tentunya waktu yang Allah pilih untuk terjadinya peristiwa turunnya Al Quran tersebut.
Ini menunjukan betapa istimewanya malam ini hingga Allah menentukan dan memilihnya diantara sekian banyak malam yang ada, untuk menjadi waktu yang tepat di turunkannya Kitab suciNya yang akan terjaga hingga kiamat tiba, yang merupakan petunjuk dan undang-undang penghuni bumi yang menginginkan kesejahteraan hidup abadi
.
Para ulama telah sepakat bahwa penurunan ini adalah dari Lauh Mahfudz ke Baitul ‘Izzah yaitu di langit yang paling dekat dengan bumi secara keseluruhan (Jumlatan Wahidatan).
Setelah itu baru turun kepada Nabi Muhammad melalui perantara Malaikat Jibril AS secara bertahap, sesuai dengan kejadian dan peristiwa yang berhubungan dengan ayat-ayat yang ada selama kurang lebih 23 tahun. Yaitu mulai dari Nabi Muhammad menjadi Nabi waktu berumur 40 tahun, hingga menjelang wafat beliau pada saat beliau berumur 63 tahun. Namun turunnya ayat sesuai kejadian-kejadian yang ada terjadi di zaman Rasulullah SAW tidak seperti susunan di mushaf yang ada di rumah kita, adapun penyusunan urutan ayat dan surat di mushaf itu secara Tawqify (penetuan/baku) oleh Nabi Muhammad SAW langsung. Karenanya bila kita melihat surat-surat yang ada di juz terakhir justrus kebanyakan makiyah.
Adapun hikmah dari peristiwa tersebut, yakni turun pertama kali secara keseluruhan kemudian turun bertahap sesuai peristiwa dan kejadian adalah menyegerakan kesenangan untuk Nabi Muhammad bahwa Al Quran telah turun seluruhnya, sedangkan turun secara bertahap bertujuan agar membuat nyaman hati, menenangkan jiwa dan berlemah lembut untuk Nabi dan umatnya, meneguhkan hati beliau ketika dihadapkan dengan gangguan musuh-musuh, hukumpun turun secara bertahap. Berbeda dengan kitab-kitab samawi sebelum Al Quran yang turun kepada para Nabi-Nabi selalu sekaligus tidak seperti Al Quran yang mempunyai dua cara penurunan sekaligus dan bertahap. Hal ini dibahas secara terperinci oleh para ulama dalam bidang ilmu ushul Al Quran.
Sekedar untuk menambah wawasan ilmu agama, tidak ada salahnya penulis mengutip keterangan tentang ayat-ayat yang pertama dan terakhir turun. Adapun ayat yang pertama kali turun (yang secara bertahap) ulama berbeda pendapat, namun pendapat yang paling kuat (mu’tamad) adalah surat Al ‘Alaq ayat 1 sampai 5. Pendapat yang lain mengatakan surat Al Mudatsir, Al Fatihah adapula yang berpendapat basmallah. Mengenai ayat yang turun terakhir kepada beliaupun terdapat perbedaan pendapat, sebagian ulama berpendapat Ayat Al Kalalah tentang hukum waris, sebagian yang lain ayat tentang riba dan sebagian yang lain ayat WATTAQUU.. adapula riwayat yang menerangkan bahwa yang terakhir turun ayat tentang hutang piutang
Dan tak ada satu pendapatpun yang mengatakan bahwa ayat yang terakhir Al YAUMA karena setelah ayat itu turun Rasul masih hidup sekitar 81 hari lagi dan masih ada ayat-ayat lain yang turun dan 9 malam sebelum wafat masih turun aya WATTAQUU.

Tahukah kamu apa itu malam Lailatul Qodar?

وَمَآ أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
“Tahukah kamu apa itu malam kemuliaan (Lailatul Qodar)?”.
Dalam ayat ini Allah mengajukan pertanyaan kepada Rasul sebelum memberitahu tentang malam tersebut, padahal bisa saja langsung menerangkan apa itu lailatul qadar. Dalam bahasa arab ini biasa digunakan bila seseorang hendak menerangkan atau mengabarkan suatu yang sangat besar, dahsyat dan menakjubkan lebih dahulu diajukan pertanyaan hingga seolah membuat ingin lebih tahu lagi tentang hal itu. Hal ini tentunya menunjukkan kebesaran malam lailatul qadar di sisi Allah.
Pertanyaan Allah di dalam Al Quran bila menggunakan kata Wa Maa Adrooka? Biasanya setelah itu langsung dikabarkan kepada RasulNya. Namun bila menggunakan kata Waa Maa Yudriyka? Tak di beri tahu. Seperti itu Al Farro menerangkan. Walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa Allah memberitahunya kepada beliau sebelum beliau wafat akan hal-hal yang mungkin untuk diketahui manusia. Adapun menyamaratakan ilmu tuhan dengan ilmu makhluk tentunya kufur. Dan Allah menerangkan lailatul qadar dalam surat ini dengan 3 hal secara garis besar yaitu yang terdapat pada ayat-ayat berikutnya.
Ulama mempunyai komentar yang beraneka ragam mengenai Malam yang satu ini, mari kita simak apa kata mereka makna Lailatul Qodar ?
• Ibnu Abbas –Rahimahullah- berpendapat “Di malam itu di tulis apa yang akan terjadi dari Ummul Kitab selama setahun ke depan, dari pada perkara kematian, hujan, kehidupan, kematian bahkan sampai orang yang berangkat pergi haji”.
• Ikrimah (seorang ulama dari kalangan Tabi’in) –Rahimahullah- berpendapat mirip dengan Ibnu Abbas, ia mengatakan “Di malam Lailatul Qodar di tulis (tentukan) orang yang akan pergi berhaji ke Baitullah Al Harom. Namanya sekaligus dengan nama ayahnya hingga tak tertinggal seorangpun dan tidak pula ada yang menyusul setelah itu”.
• Al Imam Al Qurthuby –Rahimahullah- mengatakan dalam Tafsirnya “Maknanya adalah Malam Takdir, di sebut demikian karena di malam itu Allah SWT menentukan dan menakdirkan apa-apa yang Ia kehendaki sampai setahun ke depan, seperti urusan kematian, ajal, rejeki dan lain sebagainya.” Beliau juga menyatakan “Di namakan Malam Lailatul Qodr (malam yang mulia) karena kemuliaan, keagungan, dan ketinggian kedudukannya”. Itu bila Al Qadr diartikan takdir.
• Tujuan Allah menjadikan malam ini sebagai malam penentuan taqdir selama setahun kedepan adalah Allah menampakkan kepada para malaikatNya sekaligus supaya mereka bersiap melaksanakan tugasnya. Namun bukan berarti malam itu Allah menentukan taqdir untuk setahun kedepan, adapun hal itu sudah ditetapkan sebelum langit dan bumi ini ada. Karenanya Al Husain bin Al Fadhl pernah ditanya “Bukankah Allah sudah menentukan semua hal sebelum Ia menciptakan langit dan bumi?” beliau menjawab “Benar…adapun malam lailatul qadar adalah waktu penurunan ketentuan tersebut dan keputusan untuk dijalankan ketentuan-ketentuan tersebut”.
• Bila ada pendapat yang menyatakan bahwa hal itu di malam Nishfu (pertengahan) bulan sya’ban maka jawabnya adalah bahwa permulaan penentuan pada bulan sya’ban namun diserahkan kepada malaikat di malam Lailatul Qadr.
• Al Kholil mengutarakan pendapatnya, ia berkata “Karena di malam itu bumi menjadi sempit karena di ramaikan oleh para malaikat” ia mengatakan demikian karena kata Qodar di sini diartikan sempit. Seperti yang terdapat pada firman Allah dalam surat Ath Tholaq ayat 7:
• لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّآ ءَاتَاهُ اللهُ لاَيُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ مَآءَاتَاهَا سَيَجْعَلُ اللهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا
• Adapun Abubakar Al Warroq menyatakan kenapa di namakan Lailatul Qodar (malam mulia) “Karena orang yang belum mulia dan agung, akan mendapat kemuliaan dan kedudukan yang tinggi bila ia menghidupkan malam itu (dengan cara beribadah)”.
• Ada juga ulama yang berpendapat bahwa “Karena di malam itu perbuatan amal shaleh nilainya akan menjadi sangat besar dan pahalanya menjadi banyak.”
• Ada yang juga ulama mengatakan bahwa “Karena di malam itu di turunkan (Kitab Dza Qodr) kitab suci yang penuh kemuliaan, kepada (Rosul Dzy Qodr) seorang utusan yang punya kedudukan mulia, dan untuk (Umat Dzy Qodr) umat yang mulia pula”.
• Sebagian juga ada yang berpendapat “Karena di malam itu para malaikat yang mulia dan berkedudukan (Dzawy Qodr Wa Khothr) berpangkat tinggi berturunan (kemuka bumi)”.
• Ada lagi yang mengatakan Karena di malam itu diturunkan berbagai kebaikan, keberkahan dan ampunan.”
Al hasil semuanya mengakui ketinggian dan kemuliaan malam ini, dan semua pendapat di atas tidak ada yang buruk. Semoga kita dapat menghidupkan malam itu dengan macam-macam ibadah, dan selama setahun kedepannya ditentukan hal-hal yang baik, dan ibadah kita di saksikan oleh para malaikatNya, sehingga setelah malam itu yang sebelumnya kita tidak mulia mudah-muahhan derajat kita diangkat oleh yang Maha Mulia. Amiin.
Satu malam lailatul qadar
lebih baik dari pada seribu bulan

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌمِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam kemuliaan itu (Lailatul Qodar) lebih baik dari seribu bulan (3)
Ayat ini menjawab pertanyaan ayat yang sebelumnya. Bahwa satu malam lailatul qadar itu lebih mulia daripada seribu bulan yang tidak terdapat lailatul qadarnya. Anda dapat bayangkan betapa besar nilai satu malam ini yang dalam hitungan jam hanya sekitar 10 jam mulai terbenamnya matahari hingga terbit kembali.
Namun di sisi Allah bernilai 1000 bulan. Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad menerangkan bahwa bila setahun 12 bulan maka 1000 bulan itu setara dengan 83 tahun 4 bulan sekian hari. Artinya bila ibadah seorang umat Nabi Muhammad bertepatan dengan malam tersebut maka ibadahnya yang satu malam itu menjadi bernilai 83 tahun lebih di sisi Allah SWT. Maka barang siapa yang melakukan amal ibadah bertepatan di malam ini, selama 12 tahun saja, berarti ia seperti hidup sambil beramal sholeh selama 1000 tahun (83 tahun 4 bulan, di kali 12). Begitu Al Habib Abdullah Al Haddad memberikan contoh dan gambarannya. Itu belum termasuk pahala ibadahnya di luar lailatul qadar.
Gambaran lain keutamaan orang yang ibadah di malam Lailatul Qodar seperti ini. Misalnya si fulan berumur 60 tahun. Dan ia mulai giat ibadah sejak umurnya 20 tahun, maka selama 40 tahun kedepan ia selalu isi umurnya dengan amal saleh. Dan bila datang bulan suci Romadhon ia menjadi lebih giat lagi, hingga sebulan Romadhon itu malam harinya di isi kegiatan ibadah, sampai dari amalnya yang satu bulan, salah satu malamnya bertepatan dengan lailatul qodar. Maka ibadahnya yang satu malam itu menjadi bernilai ibadah 83 tahun 4 bulan. Jika ia malakukannya setiap tahun, maka ia mendapatkan ibadahnya 83 tahun 4 bulan di kali 40 kali ia ibadah di bulan Romadhon yang bertepatan dengan lailatul qodar. Maka keuntungan buah ibadahnya di akhirat kurang lebih 3333 tahun. Dan ini belum termasuk ibadah yang di luar lailatul qodar. Dengan jumlah ini akan banyak umat Nabi Muhammad yang umurnya sebentar -bila di banding mereka- namun sanggup menyaingi ibadah umat sebelum kita yang umurnya ribuan tahun.
Betapa sayang dan pemurahnya Tuhan kita Allah yang berbuat baik sesuai dengan kehendakNya.
ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَآءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Itulah karunia Allah, Ia memberikannya kepada siapa saja yang Ia kehendaki, dan Allah Maha luas (PemberianNya) lagi Maha mengetahui.” QS Al Maidah 54.
Hal ini Allah berikan semata-mata sebagai karunia untuk Nabi Muhammad dan Umatnya. Kita menjadi terbawa mulia karena kita menjadi umat beliau, kalau saja saya dan anda pembaca, tidak di tentukan menjadi umat Nabi Muhammad, niscaya anugerah ini takkan kita dapati. Karenanya jangan kita sia-siakan kesempatan emas ini.
Jadi pada intinya, malam lailatul qodar ini adalah salah satu anugerah dan hadiah dari Allah untuk umat ini, yaitu umat Nabi Muhammad yang tidak Allah berikan untuk umat manapun sebelumnya. Dari sini nampak bahwa Allah ingin memanjakan, menyenangkan dan membuat ridho/rela dan senang hati Nabi Muhammad agar umatnya yang ahli ibadah namun umurnya hanya 60-an sampai 70-an ini, dapat mengungguli umat terdahulu yang umurnya mencapai ratusan bahkan ribuan tahun. Semoga Allah memberikan kita Taufik dan HidayahNya untuk dapat melaksanakan apa yang ia perintahkan baik yang sunnah apa lagi yang wajib, dan menjauhkan kita dari apa-apa yang Ia larang baik yang makruh apalagi yang Haram bila tiba lailatul qadar khususnya dan setiap saat umumnya, Amiin YA Robbal ‘Alamin.
Al Imam Al Haddad menyatakan “Sebagaimana sepatutnya bagi seorang mukmin selalu memperbanyak dan bersegera akan amal saleh di sepanjang ramadhan, maka begitupula sebaliknya yakni berusaha semaksimal mungkin membentengi diri dari kemaksiatan dan berusaha untuk sejauh mungkin dari kemaksiatan, karena maksiat di waktu-waktu yang memiliki keistimewaan dosanya dan ganjarannya menjadi besar pula sebanding dengan banyaknya pahala di waktu-waktu yang berfadhilah” semoga bisa menjadi bahan renungan bagi kita, amiin.
1000 1000 1000
DI MALAM ITU PARA MALAIKAT BERTURUNAN KE MUKA BUMI

تَنَزَّلُ الْمَلَئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِّنْ كُلِّ أَمْرٍ

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin tuhannya utnuk mengatur segala urusan

Malaikat bila ditinjau dari asal katanya menurut bahasa berarti kekuatan, kerajaan atau bisa pula berarti misi (Ar Risalah)…..adapun dalam istilah agama malaikat adalah makhluk yang tercipta dari cahaya yang sanggup menyerupai segala sesuatu selain yang hina, mereka bukan laki-laki atau wanita, mereka tidak memiliki hawa nafsu dan syahwat mereka juga tidak makan, tidak minum, tidak tidur dan tidak pu;a menikah tidak ada yang mengetahui jumlah mereka secara keseluruhan kecuali Allah dari banyaknya. Malaikat tidak pernah bermaksiat kepada Allah walau hanya sekejap mata dan selalu melaksanakan apapun yang Allah perintahkan kepada mereka
Kata-kata TANAZZALA dalam ayat tersebut adalah berasal dari kata NAZALA yang berarti turun. Ketika dirubah menjadi wazanTAFA’ALA dengan penambahan huruf TA di walnya dan tasydid pada pertengahan hurufnya maka artinyapun berubah yakni menjadi berturunan. Yakni turun sekelompok demi sekelompok hingga sebagian naik dan sebagian turun.
Ada pendapat yang menyatakan bahwa turunnya malaikat di malam itu masih ada kaitannya dengan dialog mereka dengan Allah ketika Allah hendak menjadikan sebagai manusia khalifahNya di muka bumi namun para malaikat agak keberatan. Kisah dan hikmah di balik kisah tersebut anda dapat lihat dalam tafsir Al Baqoroh. Sehingga mereka turun ke bumi untuk mengucapkan salam dan sebagai ungkapan penyesalan/memohon maaf (cari kata-kata yang lebih alus) karena setelah mereka lihat kenyataannya kehidupan orang-orang mukminin tidak yang seperti mereka bayangkan.
Alhasil pada malam itu para malaikat berturunan ke muka bumi dari banyaknya keberkahan di malam itu dan tentunya para malaikat turun bersamaan dengan turunnya keberkahan dan rahmat sebagaimana turun pula tatkala Al Quran dibacakan dan meramaikan majlis-majlis dzikir dan sebagaimana pula malaikat membentangkan sayapnya untuk penuntut ilmu dalam rangka ta’dzim kepada apa yang ia perbuat.
Adapun para malaikat yang turun ke muka bumi itu mereka adalah para penghuni sidratul muntaha sebagai pendamping Jibril dan dalam sebuah riwayat hadits bahwa para malaikat yang turun ke bumi lebih banyak dari jumlah kerikil bumi.
Diriwayatkan bahwa pada malam itu malaikat Jibril AS membawa 4 buah bendera. Satu bendera ditancapkan di atas pusara Rasulullah, satu bendera ditancapkan diatas Baitul Maqdis, satu bendera di masjidil haram dan satu bendera di Thuur Sina.
Sedangkan Ar Ruh yang dimaksud dalam ayat ini para ulama berbeda pendapat tentang siapakah Ar Ruh yang dimaksud? Sebagian besar ahli tafsir berpendapat bahwa ia adalah malaikat Jibril AS. Disebut secara khusus setelah penyebutan malaikat padahal ia termasuk malaikat karena kebesaran pangkatnya. Adapula yang berpendapat bahwa ia adalah masih bangsa malaikat pula namun tak terlihat oleh malaikat yang lain kecuali di malam itu, adapula pendapat bahwa ia adalah sejenis malaikat yang besar yang ikut serta bersama malaikat yang lain. Adapula yang berpendapat makhluk lain buka dari bangsa malaikat adapula yang berpendapat bahwa Ar Ruh adalah arwah anak cucu Nabi Adam AS. Adapula yang berpendapat bahwa Ar Ruh adalah Nabi Isa AS.
Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa Ka’ab Al Ahbar berkata “Sesunguhnya posisi Sidratul Muntaha berada di perbatasan langit ketujuh mendekati surga. Jadi, dia berada di perbatasan antara alam dunia dan akhirat atapnya berada di surge dan ranting-rantingnya di bawah kursi, di dalamnya terdapat para malaikat yang tak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Allah. Mereka menyembah Allah dalam ranting-ranting tersebut dan di setiap tempatnya di penuhi malaikat sedangkan malaikat Jibril berada di tengah-tengah mereka. Maka Allah menyeru Jibril untuk turun setiap lailatul qadar bersama para malaikat yang menghuni sidratul muntaha dan sat satu malaikatpun yang turut serta kecuali semua telahdibekali kasih sayang dan rahmah untuk orang-orang mukmin. Turunlah mereka bersama Jibril pada lailatul qodr mulai saat terbenamnya matahari sehingga tak tersisa setiap tempat di muka bumi kecuali dipadati para malaikat ada yang sembah sujud atau berdoa untuk para mukminin dan mukminat. Kecuali di gereja (tempat ibadah non muslim) pasar, rumah yang terdapat api, patung dan lonceng. Dan para malaikat yang turun ke bumi mereka memasuki rumah-rumah orang islam yang di dalam nya ada seorang yang mukmin atau mukminah dan ia mengucapkan salam bagi mereka seraya berkata “hai mukmin / mukminah As Salam (Allah) kirim salaam kepada anda” kecuali kepada penyandu khamer, pemutus silatu rahim dan pemakan daging babi. Jibril selalu menjabat mukmin yang ibadah, cirri-cirinya akan terasa gemetar kulit, hati menjadi lunak dan air mata bercucuran yang demikian itu dampak berjabatan dengan Jibril AS. Dalam sebuah hadits Rasul bersabda “Sesungguhnya para malaikat yang turun ke muka bumi di malam itu lebih banyak dari jumlah kerikil di bumi”
Anda bisa bayangkan pada malam itu jutaan malaikat bahkan lebih tumpah ke bumi dan bagaimana menurut anda bila anda termasuk orang yang di salami atau berjabatan dengan malaikat???
Keadaan tersebut terus berlangsung dan mereka terus mendoakan mukminin dan mukminat dan saat terbit fajar Jibril adalah yang pertama kali naik hingga di permukaan ufuq tertinggi dari matahari kemudian ia membentangkan sayapnya yang berwarna hijau dimana tidak ia bentangkan kecuali pada hari itu karenanya sinar matahari di hari tersebut tidak terlalu memancar. Lalu ia memanggil malaikat sekelompok demi sekelompok dan naiklah para malaikat hingga bersatu cahaya malaikat dengan cahaya dari sayap jibril hingga sang matahari tersipu (bingung) sepanjang hari itu kemudian Jibril menetap antara bumi dan langit bersama para malaikat di sepanjang hari itu untuk mendoakan, memohonkan ampun dan rahmat untuk mukminin dan mukminat dan yang berpuasa romadhon karena keimanan dan keikhlasan juga bagi orang yang niat apabila hidup hingga tahun depan maka ia akan berpuasa romadhon. Apabila sore tiba mereka memasuki langit dunia (langit terdekat dengan bumi) dan duduk berkelompok-kelompok sambil membicarakan oaring-orang yang mereka jumpai “bagaimana si fulan tahun ini?” dan seterusnya. Lalu mereka memasuki langit kedua sehari semalam seperti yang demikian pula hingga sampai ke sidratul muntaha. Sidratul muntaha berkata kepada para malaikat tersebut “Wahai para penghuniku, ceritakanlah padaku tentang mereka dan sebutlah nama-nama mereka di hadapanku karena akupun berhak atas hal itu dan aku ingin mencintai orang-orang yang Allah cintai” maka merekapun menceritakannya dan menyebutkan nama-nama orang-orang tersebut bahkan disertai nama orang tua mereka. Surgapun demikian, ingin mengetahui hal tersebut hingga surgapun setelah diceritakan berdoa “semoga rahmat Allah bagi si fulan dan si fulan…Ya Allah segerakanlah mereka untuk memasuki aku” JIbril memasuki tempatnya dan Allah mengilhaminya dan jibril berkata “Aku mendapati si fulan sedang sujud, ampunilah dia ya Allah” maka Allahpun mengampuninya. Jibril berkata lagi “Ya Alah aku melihat si fulan pada tahun yang lalu beribadah dan taat namun tahun ini ia berpaling dari hal-hal yang ia diperintah. Allah menyatakan “Wahai Jibril, bila ia taubat dan ….3 detik sebelum wafat, aku akan mengampuninya” Jibril berkata “Segala puji bagimu tuhanku, Kau lebih saying terhadap hambaMu dibanding seluruh makhlukMu, dan Kau lebih menyayangi hamba-hambaMu dibanding mereka sendiri”. Arsy dan yang ada di sekitarnyapun menjadi goncang seraya berkata “Segala puji bagi Allah yang maha pemurah”
Turun mereka itu bukan semata-mata keinginan keinginan mereka sendiri melainkan atas izin tuhan mereka. Adapun urusan yang dimaksud dalam firman tersebut adalah ketentuan dan taqdir Allah yang ingin Allah tampakkan bagi para malaikatNya setahun ke depan tentang ajal, rejeki dan lain-lain sebagaimana yang telah dikemukakan Ibnu Abbas di depan. Bukan taqdir yang sudah ditentukan di alam azali yang tidak akan berubah akan tetapi menampakkan yang sudah ditentukan Allah.
Mujahid berpendapat bahwa “Pada malam itu selamat dari segala perkara (buruk)” yakni tidak ada hal yang buruk terjadi.
.
Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar

سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar”(5)

Betul, pada malam itu penuh keselamatan dan tidak terjadi suatu yang buruk hal itu disebabkan dari banyaknya ucapan salam dari para malaikat yang berarti “keselamatan”.
Al Imam Al Qurthubi mengemukakan pendapatnya “Sepanjang malam lailatul qodr penuh keselamatan dan tak ada keburukan di dalamnya”
Adh Dhahhak berkata “Malam itu tidak Allah taqdirkan kecuali keselamatan sedangkan di malam-malam yang lain ada keselamatan dan bencana”
Adapula yang berpendapat “Malam keselamatan dari godaan syetan bagi mukmin dan mukminah”

TANDA-TANDA KEDATANGAN LAILATUL QADAR

Para ulama menyimpulkan beberapa cirri atau tanda datangnya lailatul qadar sebagai berikut:
• Anjing sedikit menggonggong.
• Keledai sedikit meringik pula.
• Air asin mejadi agak tawar.
• Setiap makhluk nampak seperti sedang sembah sujud kepada Allah,
• Seperti terdengar Tasbih dari segala sesuatu.
• Tampak di malam itu….. cahaya yang terang.
• Di malam itu pula tidak terjadi malapetaka.
• Keesokan harinya sinar matahari nampak bersih murni.

APA YANG HARUS KITA LAKUKAN???
DAN APA YANG HARUS KITA JAUHKAN???

BEBERAPA RIWAYAT YANG PERNAH TERJADI
DI MALAM LAILATUL QADAR

DAFTAR ISI

MALAM ADALAH MAKHLUK CIPTAAN DAN NIKMAT BESAR DARI ALLAH SWT
• Hikmah Adanya Malam
• Ada apa dengan malam???
• Allah Memerintahkan Ibadah Dan Memuji Hamba Nya Yang Bangun Dan Ibadah Di Malam Hari
• Keutamaan Menghidupkan Malam
• Beberapa tips agar mempermudah bangun malam
• Malam Malam Yang Memiliki Keutamaan Dan Dianjurkan Untuk Dihidupkan dengan Ibadah
PERBEDAAN PENDAPAT
SEPUTAR LAILATUL QODAR
• Malam isra mi’raj Rasulullah dengan lailatul qadar, mana yang lebih mulia?
• Apakah lailatul qadar khususiyah umat Muhammad atau adapula sebelum beliau?
• Apakah Hanya pada bulan suci Ramadhan atau boleh jadi datang di luar bulan suci Ramadhan?
• Apakah di bulan suci ramadhan hanya terdapat di zaman Rasulullah atau berkesinambungan hingga hari kiamat?
• Pandangan Al Imam Al Haddad mengenai lailatul qadar
• Lantas kapan datangnya lailatul qadar???
HADITS-HADITS YANG BERKENAAN DENGAN LAILATUL QADAR
KAJIAN RINGKAS SURAT AL QADAR DAN HAL-HAL YANG TERJADI DI MALAM ITU
• Latar Belakang Turunnya Ayat Ini.
• Dimalam itu Al Quran diturunkan
• Tahukah kamu apa itu malam Lailatul Qodar?
• Satu malam lailatul qadar lebih baik dari pada seribu bulan
• Di malam itu para malaikat berturunan ke muka bumi
• Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar
• Tanda –tanda kedatangannya
. Amaliah lailatul qadar